Jakarta, 9 September 2026 – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memperkuat kualitas jaringan telekomunikasi di sekitar Selat Sunda untuk mendukung operasi pencarian rombongan jurnalis yang hilang kontak setelah melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Penguatan konektivitas dilakukan melalui koordinasi dengan operator telekomunikasi agar komunikasi tim pencarian dan pertolongan dapat berlangsung lebih andal. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan pemerintah terus memberikan dukungan terhadap operasi SAR yang kini melibatkan berbagai unsur. Konektivitas dinilai mempunyai peranan penting karena operasi berlangsung di wilayah perairan yang luas dan membutuhkan koordinasi cepat antartim. Kemkomdigi sekaligus meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai kondisi maupun keberadaan rombongan.
Dukungan jaringan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi dengan melibatkan operator telekomunikasi yang mempunyai cakupan layanan di sekitar Selat Sunda. Koordinasi diarahkan untuk menjaga kualitas komunikasi selama proses pencarian berlangsung. Wilayah operasi mencakup kawasan perairan antara Banten dan Lampung yang memiliki karakter geografis berbeda dibandingkan pencarian di daratan. Stabilitas jaringan dapat membantu petugas berkomunikasi, menyampaikan perkembangan posisi, hingga bertukar informasi selama penyisiran. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan teknis pemerintah di luar pengerahan armada pencarian secara langsung.
Meutya menyampaikan keprihatinan atas hilangnya kontak dengan rombongan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik tersebut. Pemerintah berharap seluruh orang yang berada dalam kapal cepat dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat. Kemkomdigi terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan dukungan komunikasi dapat tersedia selama operasi berlangsung. Koordinasi juga melibatkan unsur yang menangani pencarian, keamanan, kebencanaan, cuaca, dan pemerintahan daerah. Operasi tersebut membutuhkan kerja lintas lembaga karena kondisi perairan dan aktivitas vulkanik menjadi faktor yang harus dipertimbangkan secara bersamaan.
Rombongan diketahui berangkat menggunakan kapal cepat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026. Mereka melakukan perjalanan menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik yang meningkat dalam beberapa hari sebelumnya. Di dalam rombongan terdapat lima jurnalis bersama awak kapal dan pemandu perjalanan. Setelah sempat melakukan komunikasi dari sekitar kawasan Anak Krakatau, kapal kemudian tidak lagi dapat dihubungi. Hilangnya komunikasi tersebut akhirnya dilaporkan kepada petugas dan menjadi dasar dimulainya operasi pencarian.
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan berasal dari sejumlah media dan satu di antaranya merupakan pewarta lepas. Mereka adalah M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman atau Daus, serta Donal Husni. Selain para jurnalis, terdapat awak kapal dan pemandu yang turut berada dalam perjalanan tersebut sehingga jumlah keseluruhan orang yang dicari dilaporkan mencapai delapan orang. Data mengenai jumlah dan identitas sempat mengalami pembaruan pada tahap awal pencarian seiring proses pendataan dilakukan. Petugas kemudian menggunakan informasi yang telah dikumpulkan untuk memperluas penyisiran di perairan Selat Sunda.
Pencarian memasuki hari kedua pada Rabu dengan area operasi yang diperluas. Tim SAR gabungan membagi pencarian ke dalam beberapa Search and Rescue Unit atau SRU agar penyisiran dapat dilakukan secara lebih sistematis. Kapal dan personel dari berbagai instansi dikerahkan untuk memeriksa kawasan yang diperkirakan menjadi jalur perjalanan kapal cepat tersebut. Selain pencarian di permukaan laut, teknologi seperti pesawat nirawak juga dimanfaatkan untuk membantu pengamatan dari udara. Perubahan arus laut, angin, gelombang, serta kondisi cuaca menjadi bagian penting dalam menentukan pergerakan area pencarian.
Penguatan jaringan telekomunikasi menjadi relevan karena personel SAR tersebar pada beberapa titik yang berjauhan. Informasi mengenai objek yang ditemukan, perubahan cuaca, posisi kapal, maupun perluasan sektor pencarian perlu disampaikan dengan cepat kepada pusat koordinasi. Gangguan komunikasi dapat memperlambat pertukaran informasi ketika setiap menit mempunyai arti penting dalam operasi penyelamatan. Karena itu, dukungan operator telekomunikasi diarahkan untuk membantu menjaga kualitas konektivitas di wilayah yang menjadi fokus operasi. Kemkomdigi memastikan aspek tersebut terus dipantau selama pencarian berlangsung.
Operasi juga menghadapi tantangan karena dilakukan di sekitar kawasan gunung api yang masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan seluruh pihak yang melakukan aktivitas di sekitar Anak Krakatau diminta tidak mendekati radius tiga kilometer dari kawah aktif. Aktivitas vulkanik dapat berubah sehingga tim di lapangan harus tetap mengikuti informasi dari otoritas terkait. Selain itu, kondisi laut dan cuaca Selat Sunda juga dapat memengaruhi efektivitas penyisiran. Keselamatan personel pencarian tetap menjadi pertimbangan utama meskipun operasi diarahkan untuk menemukan rombongan secepat mungkin.
Kemkomdigi juga meminta insan pers menjadikan kejadian tersebut sebagai pengingat mengenai pentingnya keselamatan ketika melakukan peliputan di kawasan bencana. Jurnalis yang bekerja di sekitar gunung api, laut, banjir, kebakaran maupun wilayah dengan risiko tinggi perlu mengikuti batas aman yang ditetapkan otoritas. Informasi mengenai cuaca, kondisi laut dan aktivitas vulkanik harus diperiksa sebelum keberangkatan. Peralatan komunikasi serta perlengkapan keselamatan juga mempunyai peranan penting ketika peliputan dilakukan jauh dari permukiman. Tuntutan mendapatkan informasi dari lokasi kejadian tetap perlu diseimbangkan dengan perlindungan keselamatan pekerja media.
Selain persoalan keselamatan, Meutya meminta masyarakat berhati-hati dalam menyebarkan informasi mengenai pencarian. Informasi yang belum dipastikan kebenarannya dapat menimbulkan kepanikan sekaligus menambah beban bagi keluarga orang yang sedang dicari. Masyarakat diminta menunggu keterangan resmi dari instansi yang terlibat dalam operasi. Foto, video maupun informasi lokasi yang beredar di media sosial juga perlu diverifikasi sebelum dibagikan kembali. Dalam situasi pencarian dan penyelamatan, akurasi informasi mempunyai peranan penting agar tidak mengganggu proses yang sedang berlangsung.
Perhatian terhadap hilangnya rombongan jurnalis semakin besar karena mereka sedang menjalankan tugas peliputan salah satu bencana yang berdampak luas dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas Anak Krakatau sebelumnya menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah dan mengganggu penerbangan serta kegiatan masyarakat. Ribuan penerbangan sempat terdampak dan ratusan ribu penumpang mengalami perubahan perjalanan. Kondisi tersebut membuat perkembangan Anak Krakatau menjadi salah satu isu yang banyak diliput media. Namun, kawasan sekitar gunung tetap memiliki risiko tinggi sehingga seluruh aktivitas harus mengikuti rekomendasi keselamatan.
Kemkomdigi memastikan dukungan terhadap pencarian akan terus diberikan melalui penguatan konektivitas dan koordinasi dengan operator telekomunikasi. Sementara itu, operasi utama tetap dilaksanakan tim SAR gabungan dengan memperluas sektor pencarian berdasarkan informasi posisi terakhir, perhitungan arus, serta kondisi perairan. Pemerintah berharap komunikasi yang lebih andal dapat membantu koordinasi antarpersonel dan mempercepat penyampaian informasi apabila ditemukan petunjuk baru. Masyarakat diminta memberikan ruang kepada petugas untuk menjalankan operasi sekaligus menghindari penyebaran spekulasi mengenai nasib rombongan. Prioritas seluruh unsur yang terlibat saat ini tetap sama, yakni menemukan para jurnalis, awak kapal, dan pemandu yang hilang kontak di Selat Sunda secepat mungkin.




