Jakarta, 10 September 2026 – Petenis putri Filipina Alexandra Eala menjadi salah satu favorit utama meraih medali emas nomor tunggal putri Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Status tersebut tidak terlepas dari perkembangan pesat karier Eala sepanjang musim ini hingga menembus peringkat 18 dunia. Petenis berusia 21 tahun itu datang dengan pengalaman yang jauh lebih matang dibandingkan ketika meraih medali perunggu pada Asian Games 2023 di Hangzhou, China. Absennya sejumlah pemain papan atas Asia semakin memperbesar peluangnya untuk naik ke podium tertinggi. Namun, Eala tetap harus menghadapi persaingan dari sejumlah petenis yang mempunyai pengalaman panjang di level WTA.
Nama Alexandra Maniego Eala sebenarnya sudah lama dianggap sebagai salah satu talenta terbesar dalam sejarah tenis Filipina. Ia lahir di Quezon City pada 23 Mei 2005 dan mulai mengenal tenis sejak usia muda. Perkembangannya kemudian semakin cepat setelah mendapatkan kesempatan berlatih di Rafa Nadal Academy di Mallorca, Spanyol. Lingkungan latihan tersebut membantunya membangun teknik, fisik dan mental untuk bersaing di level internasional. Eala kemudian berkembang dari pemain junior berprestasi menjadi petenis profesional yang mampu menghadapi nama-nama terbaik dunia.
Prestasinya di level junior memberikan gambaran awal mengenai potensi besar tersebut. Eala pernah menjuarai nomor ganda putri Australian Open Junior 2020 bersama Priska Madelyn Nugroho dari Indonesia. Ia kemudian memenangkan gelar ganda putri Roland Garros Junior 2021 bersama Oksana Selekhmeteva. Pencapaian yang semakin besar datang ketika Eala menjadi juara tunggal putri US Open Junior 2022. Gelar tersebut menjadikannya petenis Filipina pertama yang memenangkan titel tunggal Grand Slam junior.
Perjalanan menuju level profesional tidak berlangsung secara instan. Eala harus melewati turnamen-turnamen level ITF sebelum secara bertahap mendapatkan kesempatan bermain di kompetisi WTA. Permainan kidalnya memberikan karakter berbeda karena ia mampu menghasilkan sudut pukulan yang menyulitkan lawan. Mobilitas dari garis belakang, kemampuan mengubah arah bola serta keberanian mengambil inisiatif juga berkembang seiring bertambahnya pengalaman. Konsistensi menjadi bagian yang terus diperbaiki hingga akhirnya ia mampu bersaing secara reguler dengan pemain papan atas.
Musim 2026 menjadi periode penting dalam transformasi karier Eala. Ia berhasil menembus babak keempat Wimbledon setelah mencatat sejumlah kemenangan penting, termasuk mengalahkan Iga Swiatek pada babak ketiga. Eala kemudian menciptakan sejarah baru ketika menjuarai turnamen WTA di Washington pada Agustus. Dalam perjalanannya menuju gelar tersebut, ia mampu melewati pemain-pemain berpengalaman sebelum mengalahkan Jessica Pegula di pertandingan final. Gelar itu membuatnya menjadi petenis Filipina pertama yang menjuarai nomor tunggal dalam turnamen WTA.
Rangkaian hasil tersebut mendorong posisi Eala naik hingga peringkat 18 dunia menjelang Asian Games. Perubahan tersebut sangat besar apabila dibandingkan dengan posisinya ketika tampil di Hangzhou tiga tahun lalu. Saat itu, Eala masih berada di luar 100 besar dunia tetapi sudah mampu membawa pulang dua medali perunggu. Ia meraih perunggu tunggal putri dan satu perunggu lainnya dari nomor ganda campuran. Pengalaman tersebut kini menjadi modal ketika dirinya kembali membawa nama Filipina di Aichi-Nagoya.
Pada Asian Games 2023, langkah Eala di tunggal putri dihentikan Zheng Qinwen pada semifinal. Zheng kemudian keluar sebagai juara setelah mengalahkan rekan senegaranya, Zhu Lin, di pertandingan final. Situasinya akan berbeda pada Asian Games 2026 karena Zheng dipastikan tidak mempertahankan gelarnya. Absennya petenis China tersebut menghilangkan salah satu pesaing terkuat dalam perebutan emas. Kondisi itu menjadi salah satu alasan Eala mulai ditempatkan sebagai kandidat terdepan.
Tuan rumah Jepang juga tidak akan diperkuat Naomi Osaka pada nomor tunggal putri Asian Games. Mantan petenis nomor satu dunia tersebut mempunyai agenda profesional yang berbenturan dengan pesta olahraga Asia. Beberapa pemain Asia berperingkat tinggi lainnya juga tidak diperkirakan turun sehingga komposisi persaingan menjadi lebih terbuka. Berdasarkan peringkat saat ini dan performanya sepanjang 2026, Eala mempunyai modal kuat untuk mendapatkan posisi unggulan tinggi. Meski demikian, status favorit tidak menjamin perjalanan menuju final akan berlangsung mudah.
Salah satu pemain yang berpotensi menjadi pesaing Eala adalah Janice Tjen dari Indonesia. Selain itu, China masih mempunyai pemain berpengalaman seperti Zhang Shuai, sementara Thailand dapat mengandalkan Lanlana Tararudee dan Mananchaya Sawangkaew. Jepang juga mempunyai sejumlah pemain yang mampu memberikan perlawanan di kandang sendiri. Format turnamen singkat membuat setiap pertandingan mempunyai tekanan berbeda dibandingkan kompetisi reguler WTA. Satu penampilan buruk dapat langsung mengakhiri peluang seorang pemain mendapatkan medali.
Eala sendiri menunjukkan antusiasme besar untuk kembali tampil bersama kontingen Filipina. Ia mengaku menyukai suasana kompetisi beregu dan kebersamaan dengan atlet-atlet negaranya. Pengalaman tampil pada SEA Games juga meninggalkan kenangan yang kuat baginya. Pada SEA Games sebelumnya, Eala berhasil mendapatkan medali emas tunggal putri. Kesempatan mengenakan seragam nasional menjadi pengalaman berbeda dibandingkan ketika ia menjalani turnamen profesional secara individu sepanjang musim.
Keseriusan mengejar emas Asian Games juga terlihat dari keputusan Eala memprioritaskan kepentingan negaranya di tengah padatnya kalender profesional. Ia memilih Asian Games meskipun jadwalnya bersinggungan dengan China Open yang merupakan turnamen WTA 1000. Federasi tenis Filipina telah berkomunikasi dengan WTA mengenai keputusan tersebut dan kemungkinan konsekuensi yang dapat muncul karena melewatkan turnamen wajib. Eala tetap menunjukkan keinginan kuat bermain di Aichi-Nagoya. Baginya, kesempatan memperjuangkan medali untuk Filipina menjadi prioritas penting karena Asian Games hanya berlangsung empat tahun sekali.
Sebelum menuju Asian Games, Eala masih mempunyai agenda Singapore Tennis Open. Pengaturan kondisi fisik karena itu menjadi tantangan tersendiri mengingat jadwal turnamen berlangsung berdekatan. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan di US Open setelah kalah melalui pertandingan tiga set yang berlangsung lebih dari tiga jam melawan Iva Jovic. Eala tersingkir pada babak ketiga dengan skor 5-7, 6-3, 5-7 setelah memberikan perlawanan ketat. Hasil tersebut tetap memperlihatkan kemampuannya bersaing di panggung Grand Slam.
Asian Games juga mempunyai nilai lebih besar karena dapat membuka jalur menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Juara tunggal kontinental mempunyai peluang memperoleh tempat melalui jalur kualifikasi kontinental apabila memenuhi persyaratan peringkat dan kelayakan yang ditetapkan menjelang Olimpiade. Artinya, medali emas tidak hanya akan menjadi pencapaian terbesar Eala bersama Filipina, tetapi juga dapat membantu perjalanan menuju LA 2028. Target tersebut membuat persaingan tunggal putri diperkirakan berlangsung semakin ketat. Eala harus menjaga peringkat dan memenuhi seluruh ketentuan hingga batas kualifikasi Olimpiade.
Jika mampu menjadi juara, Eala juga berpeluang mengakhiri penantian sangat panjang tenis Filipina di Asian Games. Negara tersebut belum memenangkan medali emas tunggal tenis Asian Games sejak Johnny Jose menjadi juara tunggal putra pada 1962. Lebih dari enam dekade kemudian, Eala mempunyai kesempatan menulis babak baru dalam sejarah tersebut. Perjalanan dari juara Grand Slam junior hingga menjadi petenis 20 besar dunia membuat ekspektasi terhadap dirinya semakin tinggi. Asian Games 2026 kini menjadi panggung berikutnya bagi Alexandra Eala untuk membuktikan apakah status favorit tersebut dapat diubah menjadi medali emas bersejarah bagi Filipina.





