Jakarta, 27 Mei 2026 – Masyarakat diimbau untuk tidak mencampur daging dan jeroan hewan kurban dalam satu wadah penyimpanan karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan mempercepat penurunan kualitas bahan pangan. Peringatan tersebut kembali disampaikan para ahli pangan dan kesehatan menjelang Idul Adha, saat distribusi dan pengolahan daging kurban dilakukan secara massal di berbagai daerah. Banyak warga masih terbiasa menyatukan daging, hati, usus, paru, dan organ lainnya dalam satu kantong tanpa memperhatikan perbedaan karakteristik masing-masing bahan. Padahal jeroan memiliki tingkat kelembapan, aroma, dan kandungan bakteri yang berbeda dibanding daging biasa sehingga membutuhkan penanganan lebih khusus. Jika dicampur sembarangan, kualitas daging dapat lebih cepat rusak dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan saat dikonsumsi.

Menurut ahli keamanan pangan, jeroan termasuk bagian hewan yang lebih rentan mengalami kontaminasi mikroorganisme karena berkaitan langsung dengan sistem pencernaan dan metabolisme tubuh hewan. Organ seperti usus, babat, dan hati memiliki kandungan cairan serta bakteri alami yang lebih tinggi dibanding potongan daging otot biasa. Ketika dicampur dalam satu wadah, cairan dari jeroan dapat menyebar ke permukaan daging dan mempercepat pertumbuhan bakteri apabila penyimpanan tidak dilakukan dengan benar. Karena itu, masyarakat disarankan memisahkan penyimpanan daging dan jeroan sejak awal pembagian kurban hingga proses pengolahan di rumah. Penggunaan wadah atau kantong berbeda dianggap langkah sederhana namun penting untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.

Selain soal kebersihan, pencampuran daging dan jeroan juga dapat memengaruhi kualitas rasa serta daya tahan bahan makanan selama penyimpanan. Jeroan umumnya lebih cepat mengalami perubahan aroma dan tekstur dibanding daging biasa, terutama apabila tidak segera dibersihkan dan disimpan dalam suhu dingin. Jika disimpan bersama, aroma khas jeroan dapat memengaruhi kesegaran daging dan membuat bahan makanan lebih cepat rusak. Pengamat kuliner juga menjelaskan bahwa teknik penyimpanan terpisah memudahkan proses pengolahan karena setiap jenis bahan memiliki karakter memasak yang berbeda. Daging biasanya cocok disimpan lebih lama dalam freezer, sedangkan jeroan lebih baik segera diolah agar kualitasnya tetap terjaga.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk memperhatikan kebersihan alat pemotong, wadah distribusi, dan proses pencucian bahan kurban sebelum dimasak. Banyak kasus keracunan makanan atau gangguan pencernaan saat Idul Adha disebabkan oleh penanganan bahan pangan yang kurang higienis. Penggunaan kantong plastik bersih, wadah tertutup, dan penyimpanan dalam suhu dingin menjadi langkah penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya. Ahli kesehatan juga menyarankan masyarakat tidak terlalu lama membiarkan daging kurban berada di suhu ruang, terutama di daerah dengan cuaca panas. Penanganan yang tepat sejak awal dapat membantu menjaga kualitas daging lebih lama sekaligus mengurangi risiko penyakit akibat kontaminasi pangan.

Momentum Idul Adha memang identik dengan tradisi berbagi dan mengolah daging kurban bersama keluarga maupun lingkungan sekitar. Namun para ahli mengingatkan bahwa keamanan pangan harus tetap menjadi perhatian utama agar manfaat kurban benar-benar dirasakan tanpa menimbulkan risiko kesehatan. Memisahkan daging dan jeroan dinilai sebagai kebiasaan sederhana yang seharusnya mulai diterapkan lebih luas di masyarakat. Selain menjaga kualitas makanan, langkah tersebut juga membantu proses penyimpanan dan pengolahan menjadi lebih higienis dan praktis. Dengan edukasi yang semakin baik mengenai penanganan daging kurban, masyarakat diharapkan dapat menikmati hidangan Idul Adha dengan lebih aman, sehat, dan berkualitas.