Sleman, 1 November 2026 – Penyelenggara RANS Carnival akhirnya memberikan pernyataan resmi setelah festival hiburan yang digelar di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi sorotan publik. Acara yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 tersebut menuai perhatian setelah sejumlah musisi mengumumkan pengunduran diri menjelang pelaksanaan kegiatan. Empat nama yang dipastikan membatalkan penampilan adalah Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, dan OM Wawes. Selain pengunduran diri para musisi, festival tersebut juga menjadi perbincangan karena sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM memilih menarik diri dari kegiatan. Situasi semakin ramai dibahas setelah muncul laporan mengenai kondisi area festival yang terlihat lengang pada hari pertama penyelenggaraan. Melalui akun Instagram resminya, manajemen RANS Carnival menyampaikan bahwa pihaknya memahami perhatian dan kekhawatiran masyarakat terhadap perkembangan situasi tersebut. Penyelenggara menegaskan bahwa kondisi yang terjadi bukan merupakan sesuatu yang mereka harapkan ketika merencanakan kegiatan hiburan untuk masyarakat.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Sabtu, 31 Oktober 2026, RANS Carnival menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sejak awal dirancang untuk menghadirkan hiburan gratis bagi masyarakat. Festival itu juga bertujuan menyediakan ruang kolaborasi bagi musisi, kreator konten, dan pelaku UMKM agar dapat memperkenalkan karya maupun produk mereka kepada pengunjung. Pihak penyelenggara menyatakan bahwa berbagai bentuk kerja sama yang dibangun selama ini dilaksanakan secara profesional dengan harapan memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat. RANS Carnival ingin menjadi wadah bagi pekerja seni dan pelaku usaha lokal untuk memperluas kesempatan berkembang di berbagai daerah Indonesia. Manajemen juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung perjalanan acara tersebut sejak awal. Mereka berharap kegiatan serupa tetap dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam penyelenggaraannya. Namun, pernyataan resmi tersebut tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai alasan setiap musisi membatalkan penampilan maupun jumlah pengunjung yang hadir selama festival berlangsung.
Gelombang pengunduran diri musisi menjadi salah satu faktor yang membuat RANS Carnival mendapatkan perhatian luas di media sosial. Grup musik Tipe-X mengumumkan pembatalan penampilan melalui akun Instagram resmi mereka dengan menyampaikan keputusan untuk tidak melanjutkan keterlibatan dalam acara tersebut. Langkah serupa diambil Guyon Waton yang menjelaskan bahwa keputusan mereka didasarkan pada pertimbangan keamanan, kenyamanan masyarakat, serta situasi publik yang dinilai sedang sensitif. Manajemen Guyon Waton menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai upaya menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak. Penyanyi Masdddho juga menyatakan mundur dengan alasan bahwa kegiatan bermusik tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Sementara itu, OM Wawes yang berasal dari Yogyakarta memilih membatalkan penampilan setelah mempertimbangkan perkembangan situasi di daerah mereka. Keputusan para musisi tersebut disampaikan melalui pernyataan masing-masing sehingga tidak seluruhnya memiliki alasan yang identik. Meski demikian, pertimbangan mengenai kondisi masyarakat menjadi salah satu hal yang muncul dalam sejumlah pengumuman pengunduran diri tersebut.
Dampak polemik RANS Carnival juga terlihat dari keputusan sejumlah pelaku UMKM yang tidak melanjutkan partisipasi dalam festival. Beberapa pelaku usaha kuliner dilaporkan memilih meninggalkan lokasi atau membatalkan keikutsertaan setelah muncul gelombang kritik terhadap acara tersebut. Berdasarkan pantauan di area parkir Stadion Maguwoharjo pada Sabtu siang, jumlah pengunjung terlihat masih terbatas meskipun panggung utama telah berdiri dan sejumlah pengisi acara melakukan pemeriksaan suara. Area bazar makanan juga dilaporkan hanya menyisakan beberapa stan yang tetap beroperasi ketika sebagian pedagang lainnya memilih menarik diri. Salah satu pedagang makanan tradisional bernama Ayu memutuskan tetap berjualan karena telah memiliki komitmen untuk mengikuti kegiatan hingga selesai. Ia mengaku telah melakukan persiapan sejak malam sebelumnya agar dagangannya dapat dijual dalam kondisi segar. Namun, jumlah pembeli yang datang pada awal kegiatan belum memenuhi harapannya sehingga pendapatan yang diperoleh masih terbatas. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa polemik penyelenggaraan festival juga berdampak pada pelaku usaha kecil yang sebelumnya berharap memperoleh tambahan penghasilan dari keramaian pengunjung.
Sorotan terhadap RANS Carnival tidak dapat dilepaskan dari kontroversi yang sebelumnya melibatkan Raffi Ahmad selaku figur utama di balik RANS Entertainment. Perhatian publik meningkat setelah Raffi menghadiri kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada 29 Oktober 2026. Kehadirannya dalam kegiatan tersebut memunculkan kritik di media sosial, terutama setelah berkembang polemik mengenai dugaan pencatutan identitas almamater dalam penyelenggaraan acara. Raffi kemudian memberikan klarifikasi bahwa dirinya hadir sebagai undangan dan baru menerima informasi mengenai kegiatan tersebut pada malam sebelum pelaksanaan. Ia juga menyatakan tidak terlibat dalam perencanaan, penyusunan rangkaian acara, maupun penentuan pihak-pihak yang hadir dalam deklarasi tersebut. Dalam penjelasannya, Raffi menegaskan bahwa dirinya menghormati hak masyarakat dan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Meski telah memberikan klarifikasi, kritik terhadap keterlibatannya dalam kegiatan tersebut tetap menjadi bagian dari perbincangan publik yang kemudian berkaitan dengan penyelenggaraan RANS Carnival. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana polemik yang melibatkan figur publik dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kegiatan hiburan maupun bisnis yang memiliki hubungan dengan tokoh bersangkutan.
Di tengah berkembangnya berbagai informasi mengenai festival, pihak kepolisian turut memberikan klarifikasi terhadap isu yang beredar di masyarakat. Polresta Sleman membantah kabar mengenai dugaan pengerahan massa dan pembagian uang untuk mengajak masyarakat menghadiri RANS Carnival. Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo menegaskan bahwa keterlibatan personel kepolisian di lokasi semata-mata bertujuan menjaga keamanan kegiatan berdasarkan permohonan dari pihak penyelenggara. Penjelasan tersebut disampaikan setelah beredar pesan berantai yang mencatut nama pejabat kepolisian dan menyebut adanya rencana mobilisasi warga. Kepolisian meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, terutama ketika situasi sedang menjadi perhatian publik. Sementara itu, pihak RANS Carnival menyatakan tetap berupaya menjalankan kegiatan dengan konsep yang lebih sederhana sesuai perkembangan situasi. Langkah tersebut dilakukan agar festival masih dapat memberikan ruang bagi pengisi acara dan pelaku usaha yang memilih melanjutkan partisipasi. Meski terdapat laporan mengenai kondisi sepi pada waktu tertentu, penilaian terhadap keseluruhan jumlah pengunjung tetap memerlukan data resmi yang mencakup seluruh periode penyelenggaraan.
Polemik RANS Carnival menjadi perhatian karena melibatkan berbagai kepentingan, mulai dari pekerja seni, pelaku UMKM, penyelenggara acara, hingga masyarakat yang ingin menikmati hiburan gratis. Keputusan sejumlah musisi untuk mundur merupakan sikap masing-masing pihak yang disampaikan berdasarkan pertimbangan mereka terhadap situasi publik. Di sisi lain, penyelenggara menegaskan bahwa festival tersebut dibangun dengan tujuan memberikan kesempatan bagi pekerja kreatif dan pelaku usaha lokal untuk memperluas jangkauan kegiatan mereka. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi yang terbuka ketika sebuah kegiatan hiburan menghadapi tekanan atau kritik masyarakat. Bagi pelaku UMKM, kepastian mengenai pelaksanaan acara dan jumlah pengunjung menjadi faktor penting karena berkaitan langsung dengan biaya persiapan serta potensi pendapatan. Penyelenggara juga menghadapi tantangan untuk menjaga kepercayaan mitra, pengisi acara, dan masyarakat apabila ingin kembali menghadirkan kegiatan serupa pada masa mendatang. RANS Carnival menyampaikan harapan agar festival tersebut tetap menjadi tempat bagi berbagai pihak untuk berkarya, tumbuh, dan berkembang bersama. Perkembangan setelah penyelenggaraan di Sleman akan menjadi perhatian dalam melihat bagaimana manajemen merespons kritik publik sekaligus mempertahankan tujuan awal kegiatan sebagai ruang hiburan dan pemberdayaan ekonomi kreatif.




