Jakarta, 20 September 2026 – Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta Perum Bulog mengoptimalkan penyaluran beras premium ke jaringan ritel modern untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan stok beras premium tersedia dalam jumlah mencukupi sehingga distribusinya perlu segera diperkuat. Langkah tersebut juga dilakukan untuk menjaga pilihan konsumen setelah pemerintah melakukan penertiban terhadap sejumlah produk beras fortifikasi. Bulog diminta mempercepat suplai agar tidak terjadi kekosongan beras premium di toko ritel. Pemerintah menegaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat menjadi prioritas dalam kebijakan tersebut.
Penguatan distribusi dilakukan setelah pemerintah menarik 25 merek beras fortifikasi yang dinilai tidak memenuhi ketentuan kandungan dan mutu sesuai label. Produk-produk tersebut dimiliki oleh 11 pelaku usaha yang sebelumnya telah mendapatkan surat peringatan dari otoritas terkait. Berdasarkan pemantauan hingga minggu pertama September 2026, seluruh merek bermasalah tersebut telah menghentikan produksi. Pemerintah juga melakukan pengujian melalui sejumlah laboratorium untuk memastikan kesesuaian kandungan produk dengan informasi pada kemasan. Penertiban dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen sekaligus menjaga standar produk pangan yang beredar.
Amran memastikan penarikan beras fortifikasi tersebut tidak akan mengganggu ketersediaan beras secara keseluruhan. Pemerintah masih memiliki cadangan beras dalam jumlah besar yang dapat digunakan untuk memperkuat pasokan di pasar. Selain beras premium, pemerintah juga terus menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras medium. Per 7 September 2026, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 758 ribu ton atau 91,55 persen dari alokasi 828 ribu ton. Pemerintah kemudian memutuskan menambah alokasi SPHP beras medium sebanyak satu juta ton untuk menjaga stabilitas pasokan hingga periode berikutnya.
Bulog sebelumnya juga telah menyiapkan sekitar 110 ribu ton beras untuk disalurkan melalui pasar dan jaringan ritel modern. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 ribu ton merupakan beras premium dan 35 ribu ton lainnya berupa beras medium. Penyaluran dalam jumlah besar tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan beras di berbagai daerah, terutama kawasan yang mengalami keterbatasan pasokan di ritel modern. Kerja sama dengan pelaku usaha ritel menjadi bagian penting karena jaringan mereka dapat memperluas jangkauan distribusi kepada konsumen. Pemerintah ingin memastikan stok yang tersedia di gudang dapat segera masuk ke pasar.
Bapanas juga mendorong penguatan kerja sama antara Bulog dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia untuk mempercepat distribusi. Melalui mekanisme tersebut, jaringan ritel dapat menyerap beras medium maupun premium dari Bulog sesuai kebutuhan masing-masing wilayah. Skema distribusi secara business to business turut didorong agar proses penyaluran dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan. Pemerintah menilai persoalan ketersediaan di tingkat konsumen tidak hanya ditentukan oleh besarnya stok nasional. Kelancaran rantai distribusi dari gudang menuju pasar dan toko ritel memiliki peran yang sama pentingnya.
Cadangan Beras Pemerintah juga masih berada pada tingkat yang dinilai memadai. Pada akhir Agustus, stok tercatat sekitar 5,2 juta ton sebelum sebagian disalurkan melalui program bantuan pangan dan SPHP. Hingga pertengahan September, stok masih berada di atas empat juta ton setelah sekitar 500 ribu ton dikeluarkan untuk berbagai program stabilisasi. Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah memastikan kebutuhan beras masyarakat tetap dapat dipenuhi. Bulog juga menyatakan stok tersedia di gudang-gudang yang tersebar di berbagai daerah sehingga distribusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan wilayah.
Penguatan pasokan beras premium ke ritel modern diharapkan membuat masyarakat tidak kesulitan memperoleh produk setelah penarikan sejumlah merek beras fortifikasi. Pemerintah pada saat bersamaan terus menjalankan penyaluran beras medium melalui SPHP sebagai instrumen untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga. Kelancaran distribusi menjadi fokus karena stok yang besar perlu segera menjangkau konsumen melalui pasar tradisional maupun ritel modern. Bapanas meminta Bulog dan jaringan ritel terus berkoordinasi agar tidak terjadi kekosongan pasokan di lapangan. Dengan stok yang tersedia dan distribusi yang diperkuat, pemerintah berharap kebutuhan beras masyarakat tetap terjaga hingga akhir 2026.




