Jakarta, 21 September 2026 – Jennifer Coppen mengungkap salah satu ketakutan terbesarnya setelah menjalani kehidupan sebagai seorang ibu. Aktris berusia 25 tahun itu mengaku takut harus meninggalkan putrinya, Kamari Sky Wassink, ketika sang anak masih membutuhkan kehadirannya. Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari pengalaman Jennifer yang kehilangan ibundanya ketika masih berusia 17 tahun. Pengalaman tumbuh tanpa sosok ibu meninggalkan kesan mendalam hingga dirinya kini memiliki anak sendiri. Jennifer berharap Kamari tidak perlu mengalami kehilangan serupa pada usia muda. Karena itu, ia selalu berdoa agar diberikan kesehatan dan kesempatan untuk mendampingi tumbuh kembang putrinya.
Jennifer menyadari bahwa umur seseorang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditentukan sendiri. Ia mengaku berusaha menerima bahwa kehidupan memiliki batas yang berada di luar kendali manusia. Meski demikian, sebagai seorang ibu, Jennifer berharap waktunya bersama Kamari masih sangat panjang. Keinginan tersebut semakin kuat karena ia mengetahui bagaimana rasanya kehilangan orang tua ketika masih membutuhkan bimbingan. Baginya, pengalaman kehilangan pada usia remaja bukan sesuatu yang mudah dilewati. Kenangan itu kemudian memengaruhi cara Jennifer memandang perannya sebagai ibu saat ini.
Ibunda Jennifer, Hotimah Imaniar, meninggal dunia pada 2017 setelah berjuang melawan kanker serviks. Jennifer ketika itu masih berusia 17 tahun dan harus menjalani fase menuju dewasa tanpa kehadiran ibunya. Kehilangan tersebut membuatnya harus menghadapi berbagai perubahan kehidupan secara mandiri. Jennifer mengaku pengalaman itu masih membekas meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Setelah memiliki Kamari, ingatan mengenai kehilangan sang ibu kembali memberikan perspektif berbeda. Ia semakin memahami betapa pentingnya keberadaan seorang ibu dalam perjalanan tumbuh seorang anak.
Perasaan tersebut semakin terasa ketika Jennifer pertama kali menjalani peran sebagai orang tua. Ia mengaku sempat kebingungan karena tidak mempunyai sosok ibu yang dapat menjadi tempat bertanya mengenai cara merawat anak. Berbagai hal tentang pengasuhan harus dipelajarinya sendiri melalui pengalaman sehari-hari. Jennifer menggambarkan menjadi seorang ibu tanpa kehadiran ibunya sendiri sebagai perjalanan yang tidak sederhana. Ada banyak momen ketika ia ingin mendapatkan arahan dari seseorang yang pernah membesarkannya. Kondisi itulah yang membuatnya semakin berharap dapat terus berada di sisi Kamari.
Jennifer tidak ingin pengalaman tumbuh tanpa ibu yang pernah dirasakannya kemudian dialami putrinya. Baginya, kehilangan orang tua pada usia muda dapat meninggalkan ruang kosong yang sulit digantikan. Ia ingin memiliki waktu sebanyak mungkin untuk mendampingi Kamari melewati berbagai tahapan kehidupan. Mulai dari masa kanak-kanak, pendidikan, hingga ketika putrinya kelak beranjak dewasa, Jennifer berharap dapat terus hadir. Keinginannya bukan sekadar menyaksikan pertumbuhan Kamari, tetapi juga menjadi tempat anaknya mencari perlindungan dan bimbingan. Pengalaman pribadinya membuat Jennifer semakin menghargai setiap kesempatan bersama sang putri.
Kekhawatiran mengenai kehilangan juga bukan pengalaman baru dalam perjalanan hidup Jennifer. Pada 2024, ia harus menghadapi duka setelah suaminya saat itu, Yitta Dali Wassink, meninggal dunia akibat kecelakaan. Kepergian Dali membuat Jennifer harus menjalani peran sebagai orang tua bagi Kamari di tengah proses berduka. Peristiwa tersebut menjadi kehilangan besar lainnya setelah sebelumnya ia ditinggal sang ibu ketika masih remaja. Dalam berbagai kesempatan, Jennifer menunjukkan bagaimana Kamari menjadi salah satu sumber kekuatan dalam melewati masa sulit tersebut. Pengalaman kehilangan berulang itu membuat persoalan mengenai usia dan kehadiran keluarga memiliki makna yang sangat personal baginya.
Kini Jennifer telah menjalani babak kehidupan baru setelah menikah dengan pesepak bola Justin Hubner. Namun, pengalaman masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cara pandangnya terhadap keluarga. Jennifer berusaha memastikan Kamari tumbuh dengan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya. Ia juga menyadari bahwa tidak seluruh hal dalam kehidupan dapat dikendalikan. Hal yang dapat dilakukan menurutnya adalah menjaga kondisi diri sebaik mungkin selama masih mempunyai kesempatan. Karena alasan tersebut, kesehatan menjadi salah satu hal yang semakin diperhatikannya.
Jennifer mengaku berusaha menjaga pola makan sekaligus rutin melakukan aktivitas olahraga. Kebiasaan tersebut dijalankan bukan hanya untuk penampilan, tetapi juga sebagai upaya menjaga tubuh tetap sehat. Ia berharap gaya hidup yang lebih teratur dapat membantunya mengurangi risiko mengalami masalah kesehatan. Bagi Jennifer, tubuh yang sehat berarti kesempatan lebih besar untuk tetap aktif menemani Kamari. Ia juga ingin mempunyai energi yang cukup untuk menjalani kesibukan sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua. Kesadaran tersebut muncul semakin kuat setelah pengalaman kehilangan orang-orang terdekat dalam hidupnya.
Hubungan Jennifer dan Kamari selama ini juga kerap terlihat melalui berbagai aktivitas yang mereka jalani bersama. Jennifer beberapa kali membagikan momen ketika menemani putrinya bermain, bepergian, maupun menjalani kegiatan sehari-hari. Kedekatan tersebut membuat Kamari menjadi bagian penting dari kehidupan Jennifer setelah berbagai perubahan besar yang dialaminya. Di balik berbagai aktivitas publiknya, Jennifer tetap menempatkan perannya sebagai ibu sebagai salah satu prioritas. Ia ingin memberikan pengalaman masa kecil yang penuh pendampingan kepada Kamari. Kehadiran tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti karena Jennifer mengetahui sendiri bagaimana rasanya menjalani kehidupan tanpa ibu sejak usia muda.
Pengalaman kehilangan sang ibu pada usia 17 tahun akhirnya membuat Jennifer Coppen mempunyai harapan sederhana untuk masa depannya, yakni tetap sehat dan mempunyai waktu panjang bersama Kamari. Ia memahami tidak ada seorang pun yang dapat menentukan berapa lama kehidupannya berlangsung, tetapi ia memilih melakukan hal-hal yang masih berada dalam kendalinya. Menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan, berolahraga, serta menyediakan waktu untuk anak menjadi bagian dari upaya tersebut. Jennifer berharap Kamari dapat tumbuh dengan kehadiran seorang ibu yang mendampingi berbagai fase kehidupannya. Luka kehilangan masa lalu tidak ingin ia jadikan sekadar ketakutan, melainkan alasan untuk semakin menghargai kebersamaan bersama putrinya. Bagi Jennifer, kesempatan untuk terus berada di sisi Kamari menjadi salah satu hal yang paling ingin dijaganya.




