Jakarta, 25 Mei 2026 – Krisis kemanusiaan di Afghanistan semakin memprihatinkan setelah muncul laporan bahwa sejumlah keluarga miskin terpaksa menjual anak mereka demi mendapatkan uang untuk membeli makanan dan bertahan hidup. Kondisi ekonomi yang memburuk, tingginya pengangguran, serta minimnya bantuan kemanusiaan membuat banyak warga berada di ambang kelaparan. Di berbagai wilayah pedesaan, para ayah dan kepala keluarga disebut menghadapi pilihan yang sangat berat karena tidak lagi memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka. Situasi tersebut menjadi gambaran nyata dari krisis sosial dan ekonomi berkepanjangan yang masih melanda Afghanistan sejak perubahan kekuasaan beberapa tahun terakhir. Organisasi kemanusiaan internasional menyebut jutaan warga kini hidup dalam kondisi sangat rentan dan membutuhkan bantuan segera.
Menurut sejumlah laporan kemanusiaan, praktik penjualan anak biasanya dilakukan melalui perjanjian pernikahan dini atau penyerahan anak kepada keluarga lain dengan imbalan uang tertentu. Banyak keluarga mengaku keputusan itu diambil bukan karena keinginan pribadi, melainkan akibat tekanan ekonomi ekstrem dan ketidakmampuan menyediakan makanan bagi seluruh anggota keluarga. Anak perempuan disebut menjadi kelompok paling rentan karena sering dijadikan jalan terakhir untuk membantu keuangan keluarga melalui pernikahan usia dini. Selain kehilangan hak pendidikan dan masa depan, anak-anak tersebut juga berisiko mengalami kekerasan dan eksploitasi. Kondisi ini semakin memperburuk situasi sosial di Afghanistan yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai organisasi bantuan internasional memperingatkan bahwa Afghanistan kini berada dalam salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Jutaan warga disebut menghadapi kekurangan pangan akut akibat runtuhnya ekonomi, pembatasan akses kerja, serta berkurangnya bantuan internasional. Selain itu, musim dingin ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan tingginya harga kebutuhan pokok semakin memperparah penderitaan masyarakat. Banyak keluarga terpaksa menjual barang berharga, berutang, hingga mengurangi konsumsi makanan harian untuk bertahan hidup. Ketika semua pilihan habis, sebagian keluarga akhirnya mengambil langkah tragis dengan menyerahkan anak mereka demi mendapatkan uang tunai.
Pengamat kemanusiaan menilai situasi ini menunjukkan dampak jangka panjang dari konflik, instabilitas politik, dan krisis ekonomi yang tidak kunjung terselesaikan di Afghanistan. Mereka menegaskan bahwa praktik penjualan anak bukan sekadar persoalan budaya atau sosial, tetapi merupakan indikator runtuhnya ketahanan ekonomi keluarga akibat kondisi ekstrem. Tanpa bantuan internasional yang memadai, jumlah keluarga yang mengambil langkah serupa dikhawatirkan akan terus meningkat. Selain bantuan pangan darurat, masyarakat internasional juga didorong mendukung pemulihan ekonomi dan akses pendidikan agar anak-anak Afghanistan tidak kehilangan masa depan mereka. Organisasi hak asasi manusia juga menyerukan perlindungan khusus bagi perempuan dan anak-anak yang paling terdampak oleh krisis.
Di tengah situasi yang semakin berat, berbagai lembaga kemanusiaan terus berupaya menyalurkan bantuan makanan, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial kepada warga Afghanistan. Namun keterbatasan dana dan akses distribusi membuat bantuan yang tersedia masih jauh dari kebutuhan sebenarnya di lapangan. Banyak keluarga di daerah terpencil belum mendapatkan bantuan secara memadai dan tetap hidup dalam ancaman kelaparan setiap hari. Masyarakat internasional kini menghadapi tekanan untuk meningkatkan respons kemanusiaan agar tragedi sosial seperti penjualan anak dapat dicegah lebih luas. Krisis Afghanistan pun kembali menjadi pengingat bahwa dampak perang dan kemiskinan dapat menghancurkan kehidupan generasi masa depan apabila tidak segera ditangani secara serius.







