PBSI Tarik Tiga Wakil dari China Masters 2026, Fajar/Fikri Fokus Persiapan Asian Games
Jakarta, 31 Agustus 2026 – Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memutuskan menarik tiga wakil Indonesia dari ajang China Masters 2026. Ketiga wakil tersebut adalah Alwi Farhan di sektor tunggal putra, Putri Kusuma Wardani di tunggal putri, serta pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dari ganda putra. Keputusan tersebut diambil karena jadwal China Masters berdekatan dengan Asian Games 2026 yang akan berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang. PBSI menilai para pemain yang masuk dalam long list Asian Games membutuhkan pengaturan program yang lebih optimal agar memiliki waktu cukup untuk pemulihan, latihan, dan evaluasi.
China Masters 2026 dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, China, pada 1-6 September 2026 dengan level BWF World Tour Super 750. Sementara itu, Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan digelar pada 19 September hingga 4 Oktober mendatang. Jarak kedua turnamen yang relatif berdekatan membuat PBSI harus menyusun strategi agar kondisi fisik dan persiapan atlet tetap terjaga. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pelatnas PBSI Eng Hian mengatakan penarikan tersebut merupakan bagian dari pengaturan program masing-masing pemain. Menurutnya, kebutuhan setiap atlet tidak dapat disamakan sehingga keputusan untuk bertanding atau beristirahat harus mempertimbangkan kondisi serta target masing-masing.
Fajar/Fikri menjadi salah satu pasangan yang cukup mencuri perhatian dalam keputusan tersebut. Pasangan ganda putra ini sebelumnya tampil impresif pada rangkaian turnamen di China dan Jepang dengan meraih gelar secara beruntun. Mereka berhasil mempertahankan gelar China Open 2026 setelah sebelumnya menjadi juara Japan Open 2026. Performa tersebut membuat Fajar/Fikri menjadi salah satu pasangan yang memiliki peluang untuk bersaing dalam persiapan menuju Asian Games. Namun, padatnya agenda pertandingan juga membuat aspek pemulihan menjadi pertimbangan penting bagi tim pelatih.
Penarikan tiga wakil tersebut sebenarnya merupakan bagian dari gelombang kedua keputusan PBSI untuk mengurangi jumlah pemain Indonesia di China Masters. Sebelumnya, enam wakil lainnya telah lebih dahulu ditarik dari turnamen tersebut. Enam pasangan itu terdiri atas empat wakil ganda putri, yakni Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti, serta Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinnara Nastine. Dua pasangan lainnya berasal dari ganda campuran, yaitu Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dan Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata.
Dengan demikian, total sembilan wakil Indonesia ditarik dari China Masters 2026. Setelah sejumlah pemain mundur, Indonesia kini hanya menyisakan empat wakil yang tetap dijadwalkan tampil di Shenzhen. Mereka adalah Jonatan Christie pada sektor tunggal putra, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, serta Ali Faathir Rayhan/Devi Artha Wahyudi pada sektor ganda putra. Keputusan mempertahankan keempat wakil tersebut juga memiliki pertimbangan tersendiri dari tim pembinaan. Mereka dinilai masih membutuhkan pertandingan untuk menjaga atau menambah poin ranking BWF sekaligus mempertahankan ritme bertanding menjelang Asian Games.
Eng Hian menegaskan bahwa penarikan pemain dari China Masters tidak otomatis berarti atlet tersebut sudah dipastikan masuk dalam skuad Indonesia untuk Asian Games 2026. Seluruh pemain yang masuk long list masih akan melalui proses evaluasi berdasarkan berbagai aspek. Performa di lapangan, kondisi fisik dan teknis, serta kebutuhan komposisi tim menjadi sejumlah faktor yang akan dipertimbangkan sebelum penentuan akhir. Karena itu, keputusan tampil atau tidak tampil di China Masters sebaiknya tidak dipandang sebagai penentu tunggal peluang seorang pemain untuk memperkuat Indonesia di Asian Games. PBSI masih memiliki waktu untuk melakukan penilaian sebelum komposisi tim ditetapkan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa PBSI mulai mengatur beban pertandingan atlet dengan lebih selektif menjelang agenda besar kontinental. Asian Games memiliki arti penting karena mempertemukan atlet terbaik dari berbagai negara Asia dan membutuhkan kesiapan fisik serta mental dalam kondisi optimal. Bagi pemain yang baru saja menjalani rangkaian turnamen padat, tambahan pertandingan dalam waktu berdekatan dapat meningkatkan risiko kelelahan. Karena itu, waktu recovery menjadi bagian penting dari program persiapan. PBSI juga perlu memastikan atlet tetap mendapatkan latihan yang cukup tanpa mengorbankan kondisi fisik menjelang pertandingan yang menjadi target utama.
Bagi Fajar/Fikri, keputusan mundur dari China Masters memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri lebih matang setelah rangkaian pertandingan panjang. Gelar China Open 2026 yang mereka raih menjadi modal positif, tetapi keberhasilan tersebut juga datang setelah dua pekan kompetisi yang menguras tenaga. Kini, fokus dapat diarahkan pada pemulihan dan persiapan berikutnya bersama tim. Sementara itu, pemain Indonesia yang tetap bertanding di China Masters memiliki misi berbeda, terutama dalam menjaga performa dan posisi ranking. Perbedaan program tersebut menjadi bagian dari strategi PBSI untuk memaksimalkan peluang Indonesia menghadapi Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Penarikan sembilan wakil dari China Masters 2026 pada akhirnya menjadi langkah PBSI untuk menyeimbangkan kebutuhan kompetisi dan persiapan menuju Asian Games. Keputusan tersebut tidak hanya mempertimbangkan hasil turnamen, tetapi juga kondisi fisik, kebutuhan ranking, ritme pertandingan, serta waktu pemulihan setiap pemain. Dengan masih adanya proses evaluasi, persaingan untuk masuk skuad Asian Games tetap terbuka bagi para pemain dalam long list. PBSI kini memiliki tugas memastikan seluruh atlet mendapatkan program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Harapannya, pengaturan tersebut dapat membuat para pemain Indonesia datang ke Aichi-Nagoya dengan kondisi terbaik dan mampu memberikan hasil maksimal bagi kontingen Merah Putih.
Jakarta, 31 Agustus 2026 – Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memutuskan menarik tiga wakil Indonesia dari ajang China Masters 2026. Ketiga wakil tersebut adalah Alwi Farhan di sektor tunggal putra, Putri Kusuma Wardani di tunggal putri, serta pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dari ganda putra. Keputusan tersebut diambil karena jadwal China Masters berdekatan dengan Asian Games 2026 yang akan berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang. PBSI menilai para pemain yang masuk dalam long list Asian Games membutuhkan pengaturan program yang lebih optimal agar memiliki waktu cukup untuk pemulihan, latihan, dan evaluasi.
China Masters 2026 dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, China, pada 1-6 September 2026 dengan level BWF World Tour Super 750. Sementara itu, Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan digelar pada 19 September hingga 4 Oktober mendatang. Jarak kedua turnamen yang relatif berdekatan membuat PBSI harus menyusun strategi agar kondisi fisik dan persiapan atlet tetap terjaga. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pelatnas PBSI Eng Hian mengatakan penarikan tersebut merupakan bagian dari pengaturan program masing-masing pemain. Menurutnya, kebutuhan setiap atlet tidak dapat disamakan sehingga keputusan untuk bertanding atau beristirahat harus mempertimbangkan kondisi serta target masing-masing.
Fajar/Fikri menjadi salah satu pasangan yang cukup mencuri perhatian dalam keputusan tersebut. Pasangan ganda putra ini sebelumnya tampil impresif pada rangkaian turnamen di China dan Jepang dengan meraih gelar secara beruntun. Mereka berhasil mempertahankan gelar China Open 2026 setelah sebelumnya menjadi juara Japan Open 2026. Performa tersebut membuat Fajar/Fikri menjadi salah satu pasangan yang memiliki peluang untuk bersaing dalam persiapan menuju Asian Games. Namun, padatnya agenda pertandingan juga membuat aspek pemulihan menjadi pertimbangan penting bagi tim pelatih.
Penarikan tiga wakil tersebut sebenarnya merupakan bagian dari gelombang kedua keputusan PBSI untuk mengurangi jumlah pemain Indonesia di China Masters. Sebelumnya, enam wakil lainnya telah lebih dahulu ditarik dari turnamen tersebut. Enam pasangan itu terdiri atas empat wakil ganda putri, yakni Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti, serta Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinnara Nastine. Dua pasangan lainnya berasal dari ganda campuran, yaitu Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dan Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata.
Dengan demikian, total sembilan wakil Indonesia ditarik dari China Masters 2026. Setelah sejumlah pemain mundur, Indonesia kini hanya menyisakan empat wakil yang tetap dijadwalkan tampil di Shenzhen. Mereka adalah Jonatan Christie pada sektor tunggal putra, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, serta Ali Faathir Rayhan/Devi Artha Wahyudi pada sektor ganda putra. Keputusan mempertahankan keempat wakil tersebut juga memiliki pertimbangan tersendiri dari tim pembinaan. Mereka dinilai masih membutuhkan pertandingan untuk menjaga atau menambah poin ranking BWF sekaligus mempertahankan ritme bertanding menjelang Asian Games.
Eng Hian menegaskan bahwa penarikan pemain dari China Masters tidak otomatis berarti atlet tersebut sudah dipastikan masuk dalam skuad Indonesia untuk Asian Games 2026. Seluruh pemain yang masuk long list masih akan melalui proses evaluasi berdasarkan berbagai aspek. Performa di lapangan, kondisi fisik dan teknis, serta kebutuhan komposisi tim menjadi sejumlah faktor yang akan dipertimbangkan sebelum penentuan akhir. Karena itu, keputusan tampil atau tidak tampil di China Masters sebaiknya tidak dipandang sebagai penentu tunggal peluang seorang pemain untuk memperkuat Indonesia di Asian Games. PBSI masih memiliki waktu untuk melakukan penilaian sebelum komposisi tim ditetapkan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa PBSI mulai mengatur beban pertandingan atlet dengan lebih selektif menjelang agenda besar kontinental. Asian Games memiliki arti penting karena mempertemukan atlet terbaik dari berbagai negara Asia dan membutuhkan kesiapan fisik serta mental dalam kondisi optimal. Bagi pemain yang baru saja menjalani rangkaian turnamen padat, tambahan pertandingan dalam waktu berdekatan dapat meningkatkan risiko kelelahan. Karena itu, waktu recovery menjadi bagian penting dari program persiapan. PBSI juga perlu memastikan atlet tetap mendapatkan latihan yang cukup tanpa mengorbankan kondisi fisik menjelang pertandingan yang menjadi target utama.
Bagi Fajar/Fikri, keputusan mundur dari China Masters memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri lebih matang setelah rangkaian pertandingan panjang. Gelar China Open 2026 yang mereka raih menjadi modal positif, tetapi keberhasilan tersebut juga datang setelah dua pekan kompetisi yang menguras tenaga. Kini, fokus dapat diarahkan pada pemulihan dan persiapan berikutnya bersama tim. Sementara itu, pemain Indonesia yang tetap bertanding di China Masters memiliki misi berbeda, terutama dalam menjaga performa dan posisi ranking. Perbedaan program tersebut menjadi bagian dari strategi PBSI untuk memaksimalkan peluang Indonesia menghadapi Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Penarikan sembilan wakil dari China Masters 2026 pada akhirnya menjadi langkah PBSI untuk menyeimbangkan kebutuhan kompetisi dan persiapan menuju Asian Games. Keputusan tersebut tidak hanya mempertimbangkan hasil turnamen, tetapi juga kondisi fisik, kebutuhan ranking, ritme pertandingan, serta waktu pemulihan setiap pemain. Dengan masih adanya proses evaluasi, persaingan untuk masuk skuad Asian Games tetap terbuka bagi para pemain dalam long list. PBSI kini memiliki tugas memastikan seluruh atlet mendapatkan program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Harapannya, pengaturan tersebut dapat membuat para pemain Indonesia datang ke Aichi-Nagoya dengan kondisi terbaik dan mampu memberikan hasil maksimal bagi kontingen Merah Putih.




