Jakarta, 28 Agustus 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengukuhkan Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya masyarakat Betawi di Jakarta. Pengukuhan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk memastikan nilai adat, tradisi, sejarah, serta kebudayaan Betawi tetap memiliki ruang di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global. Keberadaan dewan tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah dalam merumuskan berbagai langkah pelestarian budaya secara lebih terarah, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat adat dan para pelaku kebudayaan dalam pembangunan kota.
Pramono menilai kebudayaan Betawi merupakan bagian penting dari identitas Jakarta yang perlu dijaga keberlangsungannya. Perkembangan kota yang semakin modern tidak seharusnya membuat tradisi dan nilai-nilai lokal kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan yang dapat melibatkan generasi muda, komunitas seni, tokoh masyarakat, serta lembaga kebudayaan. Pemerintah daerah ingin memastikan budaya Betawi tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap berkembang dan dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta saat ini.
Pengukuhan Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi juga diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah dengan berbagai unsur masyarakat Betawi. Dewan tersebut memiliki peran penting dalam memberikan masukan mengenai persoalan adat, tradisi, serta kebudayaan yang berkembang di tengah masyarakat. Dengan adanya wadah yang lebih terorganisasi, berbagai program pelestarian diharapkan dapat disusun berdasarkan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kolaborasi tersebut juga dapat membantu pemerintah dalam menentukan kebijakan yang tetap menghormati nilai-nilai adat sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan sosial dan tata ruang Jakarta.
Pelestarian budaya Betawi tidak hanya berkaitan dengan kesenian tradisional, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bahasa, kuliner, pakaian adat, arsitektur, upacara tradisional, musik, tari, cerita rakyat, hingga nilai-nilai sosial yang diwariskan antargenerasi merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu diperhatikan. Apabila hanya sebagian unsur yang dipertahankan sementara unsur lainnya semakin jarang digunakan, identitas budaya dapat mengalami perubahan secara perlahan. Karena itu, upaya pelestarian membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan melibatkan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku kebudayaan.
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Betawi. Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi membuat generasi muda memiliki banyak pilihan budaya dari berbagai daerah maupun negara. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan media digital, kegiatan kreatif, pendidikan kebudayaan, festival, hingga kolaborasi antara seniman tradisional dan pelaku industri kreatif dapat menjadi sarana untuk membuat budaya Betawi lebih dekat dengan generasi muda.
Pemerintah DKI Jakarta juga dapat memanfaatkan berbagai ruang publik dan kegiatan kota sebagai sarana memperkenalkan kebudayaan Betawi. Pertunjukan seni, pameran, festival kuliner, kegiatan pendidikan, serta agenda pariwisata dapat menjadi media untuk memperkenalkan tradisi Betawi kepada masyarakat yang lebih luas. Kehadiran budaya lokal dalam berbagai kegiatan tersebut juga dapat memberikan kesempatan kepada pelaku seni dan usaha berbasis budaya untuk memperoleh ruang ekonomi. Dengan demikian, pelestarian tidak hanya memiliki nilai sosial dan sejarah, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor kebudayaan dan ekonomi kreatif.
Keberadaan Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi juga dapat membantu menjaga berbagai warisan budaya yang menghadapi tantangan akibat perubahan lingkungan perkotaan. Pertumbuhan Jakarta menyebabkan perubahan penggunaan ruang dan pola permukiman masyarakat. Sejumlah kawasan yang sebelumnya menjadi ruang berkembangnya tradisi lokal mengalami perubahan fungsi sehingga aktivitas kebudayaan perlu mendapatkan perhatian khusus. Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk memastikan tempat, kegiatan, maupun tradisi yang memiliki nilai sejarah tetap dapat dipertahankan dan tidak terputus dari kehidupan masyarakat akibat perkembangan kota.
Selain menjaga tradisi, penguatan kelembagaan kebudayaan juga dapat mendorong dokumentasi terhadap berbagai warisan Betawi. Dokumentasi menjadi penting karena sejumlah tradisi dan pengetahuan lokal diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika tidak dicatat atau didokumentasikan, sebagian pengetahuan tersebut berisiko hilang ketika generasi penerus tidak lagi mengenalnya. Dokumentasi dapat dilakukan melalui tulisan, rekaman audiovisual, arsip digital, maupun kegiatan penelitian yang melibatkan tokoh adat dan masyarakat. Hasilnya dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus membantu generasi mendatang memahami akar kebudayaan mereka.
Pelestarian budaya juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan Jakarta yang tetap mempertahankan karakter lokal. Kota yang berkembang menjadi pusat ekonomi dan bisnis membutuhkan identitas yang membuatnya berbeda dari kota-kota lain. Budaya Betawi dapat menjadi salah satu elemen yang memperkuat karakter tersebut melalui seni, kuliner, arsitektur, tradisi, dan berbagai ekspresi budaya lainnya. Pengembangan kota yang tetap memberikan ruang bagi budaya lokal akan membuat modernisasi tidak menghilangkan identitas masyarakat yang telah membentuk sejarah Jakarta selama bertahun-tahun.
Dengan dikukuhkannya Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi, pemerintah berharap upaya pelestarian budaya dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Dewan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi tokoh adat, budayawan, seniman, masyarakat, dan pemerintah untuk bekerja sama menjaga warisan Betawi. Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan tradisi yang sudah ada, tetapi memastikan kebudayaan tersebut tetap hidup, dikenal, dan relevan bagi generasi berikutnya. Melalui kolaborasi yang kuat serta dukungan kebijakan yang konsisten, pelestarian budaya Betawi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan transformasi Jakarta menjadi kota modern tanpa kehilangan jati diri dan akar sejarahnya.




